Hujan gerimis baru saja reda ketika Sukir turun dari ojek online yang mengantarkannya pulang kerja. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dan tubuhnya terasa berat oleh sisa-sisa tekanan di kantor. Di ujung jalan yang sepi, sebuah warung tenda masih menyala terang dengan bau harum yang menyambut sejak sepuluh meter sebelum sampai. Warung Sego Goreng Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Jakarta Timur, memang selalu jadi penyelamat malam-malam panjangnya.
Tenda sederhana itu beratapkan terpal biru dengan meja kayu yang sudah banyak noda saus. Tapi buat Sukir, di sanalah tempat paling nyaman untuk merebahkan lelah. Tidak perlu AC, tidak perlu musik jazz atau interior minimalis. Cukup semangkuk nasi goreng merah dengan uap mengepul dan segelas wedang cor yang manis pedas menyentuh tenggorokan.
Cacak penjual, Cak Ri, tampaknya sudah hafal kebiasaan Sukir. Lelaki muda yang hampir tiap malam datang dengan wajah penuh beban, lalu pulang dengan senyum kecil setelah menyantap seporsi sego goreng abang. Warna merah menyala nasi gorengnya bukan dari pewarna, tapi dari saus tomat khas yang diracik sendiri. Rasanya manis, gurih, sedikit pedas, seperti hidup.
Di seberang warung, lampu jalan bergoyang pelan tertiup angin. Suara sesekali dari motor yang melintas jadi latar malam yang hening. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, warung kecil ini menawarkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan gaji bulanan.
Sukir menyeruput wedang cor-nya perlahan. Hangat jahe dan manis susu menyebar di dada, seperti pelukan dari ibu saat masih kecil. Sesederhana itu, tapi begitu dalam. Kadang, kebahagiaan memang tidak serumit pencapaian dan karier. Cukup dengan makanan enak dan obrolan ringan di bawah tenda biru.


