Iklan


Wedang Cor, Sego Goreng Abang, dan Malam Jakarta

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:37:19Z


Hujan gerimis baru saja reda ketika Sukir turun dari ojek online yang mengantarkannya pulang kerja. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dan tubuhnya terasa berat oleh sisa-sisa tekanan di kantor. Di ujung jalan yang sepi, sebuah warung tenda masih menyala terang dengan bau harum yang menyambut sejak sepuluh meter sebelum sampai. Warung Sego Goreng Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Jakarta Timur, memang selalu jadi penyelamat malam-malam panjangnya.

Tanpa perlu ditanya, si penjual langsung menyapa, "Sego goreng ndok ceplok, Cak Sukir?"
"Koyok biasa cak. Tambah wedang cor, yo. Lagi butuh sing anget-anget iki," balasnya sambil melepaskan dasi dan duduk di kursi plastik warna hijau yang sudah agak goyang.

Tenda sederhana itu beratapkan terpal biru dengan meja kayu yang sudah banyak noda saus. Tapi buat Sukir, di sanalah tempat paling nyaman untuk merebahkan lelah. Tidak perlu AC, tidak perlu musik jazz atau interior minimalis. Cukup semangkuk nasi goreng merah dengan uap mengepul dan segelas wedang cor yang manis pedas menyentuh tenggorokan.

Cacak penjual, Cak Ri, tampaknya sudah hafal kebiasaan Sukir. Lelaki muda yang hampir tiap malam datang dengan wajah penuh beban, lalu pulang dengan senyum kecil setelah menyantap seporsi sego goreng abang. Warna merah menyala nasi gorengnya bukan dari pewarna, tapi dari saus tomat khas yang diracik sendiri. Rasanya manis, gurih, sedikit pedas, seperti hidup.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, Sukir menghela napas panjang. "Enak banget, Cak. Iki sing selalu tak enteni mben bengi"
"Lelahe kerjo terbayar, yo cak," jawab Cak Ri sambil tersenyum.

Di seberang warung, lampu jalan bergoyang pelan tertiup angin. Suara sesekali dari motor yang melintas jadi latar malam yang hening. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, warung kecil ini menawarkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan gaji bulanan.

Sukir menyeruput wedang cor-nya perlahan. Hangat jahe dan manis susu menyebar di dada, seperti pelukan dari ibu saat masih kecil. Sesederhana itu, tapi begitu dalam. Kadang, kebahagiaan memang tidak serumit pencapaian dan karier. Cukup dengan makanan enak dan obrolan ringan di bawah tenda biru.

Sebelum pamit, Sukir berkata pelan, "Cak, semoga warung ini nggak pernah tutup, ya. Ini satu-satunya tempat di Jakarta yang bikin saya merasa pulang."
Cak Ri hanya tersenyum, mengangguk. Dalam diamnya, ia tahu, warung kecil ini mungkin tak berarti apa-apa bagi banyak orang. Tapi bagi beberapa yang datang tiap malam seperti Sukir, tempat ini adalah rumah kedua.

Komentar

Tampilkan