Cak Ri dan Cak Hud adalah orang asli asal Jawa Timur yang telah merantau ke Jakarta lebih dari lima tahun lamanya. Keduanya bertemu saat bekerja di sebuah kantor pusat di Jakarta dan langsung akrab karena sama-sama berasal dari Jawa Timur. Namun ada satu hal yang selalu membuat mereka rindu tanah kelahiran, yaitu sego goreng abang khas Suroboyo.
Setiap kali pulang kampung, Cak Ri dan Cak Hud selalu punya satu tujuan utama sebelum bertemu sanak saudara: berburu sego goreng abang langganan mereka. Warung sederhana di pinggir jalan dengan aroma khas bawang putih dan sambal pedas itu seakan jadi magnet yang tak bisa ditolak. Makanannya sederhana, tapi rasa dan kenangan yang dibawanya luar biasa.
Selama di Jakarta, mereka sering mencari-cari rasa yang sama di berbagai tempat, dari kaki lima hingga restoran. Namun tak ada yang benar-benar bisa menyamai rasa sego goreng abang di Surabaya. "Enak, tapi gak nendang," keluh Cak Ri suatu malam sambil menyeruput teh hangat. "Kurang sambel, kurang jiwanya," timpal Cak Hud setengah bercanda.
Di suatu malam penuh nostalgia, muncul ide yang lama terpendam di benak keduanya. "Daripada terus kangen dan nggak ketemu, kenapa nggak kita buka warung sego goreng abang sendiri di sini, Cak?" ujar Cak Ri sambil menatap Cak Hud yang langsung mengangguk penuh semangat. Sejak itu, mereka mulai merancang mimpi sederhana namun penuh makna: menghadirkan cita rasa kampung halaman di ibu kota.
Setelah menabung, mencari resep otentik, dan latihan masak berkali-kali, akhirnya Warung Sego Goreng Suroboyo resmi dibuka di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dengan logo khas dan suasana sederhana, warung itu mengusung misi besar: membagikan rasa rindu dalam bentuk sepiring nasi goreng merah pedas yang legendaris.
Tak butuh waktu lama, warung mereka mulai ramai. Mulai dari warga Jakarta asli hingga perantau dari Jawa Timur berdatangan. Banyak pelanggan yang mengatakan, "Ini baru sego goreng abang asli Suroboyo." Kalimat-kalimat seperti itu membuat Cak Ri dan Cak Hud terharu. Ternyata rindu mereka bukan milik mereka berdua saja.
Kini, tak perlu lagi menunggu momen pulang kampung untuk menikmati sego goreng khas Surabaya. Setiap hari, selepas maghrib, Cak Ri dan Cak Hud duduk di warung mereka sambil menyaksikan pelanggan makan dengan lahap. "Rasanya seperti di kampung halaman," kata salah satu pelanggan, dan mereka hanya tersenyum puas.
Warung kecil itu bukan hanya tempat makan, tapi juga tempat melepas rindu, tempat bercerita tentang kampung halaman, tempat tertawa dan mengenang masa lalu. Di tiap suapan, terselip kenangan dan cinta pada tanah kelahiran yang tak pernah luntur meski terpisah jarak dan waktu.
Bagi Cak Ri dan Cak Hud, sego goreng bukan sekedar makanan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya, masa kini dengan masa lalu, dan kerinduan dengan kebahagiaan. Kini, mereka tak hanya menjadi perantau, tapi juga penjaga rasa, rasa yang tak boleh hilang ditelan zaman.

