Iklan


Hangatnya Wedang Cor, Hangatnya Rumah

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:39:06Z


Malam itu, jalanan Jakarta seperti biasa, ramai dan penuh sesak. Klakson bersahutan, lampu-lampu kendaraan menyilaukan mata, dan wajah-wajah penat di balik helm dan kaca mobil menunjukkan satu hal: lelah. Aku pun demikian. Sepulang kerja, langkahku terasa berat. Bukan karena tubuh yang letih, tapi pikiran yang terasa penuh sesak oleh laporan, target, dan tumpukan tugas yang belum selesai.

Alih-alih langsung pulang, aku memutar setir menuju Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Jakarta Timur. Di sana, ada warung kecil yang belakangan jadi tempat pelarianku. Warung sego goreng Suroboyo. Tempatnya sederhana, beratapkan seng dan berdinding triplek, tapi justru itu yang membuatnya terasa hangat. Di antara deretan menu, satu yang selalu membuatku kembali: wedang cor.

Aku duduk di sudut warung, tepat di bawah lampu redup yang menggantung dari langit-langit. Suara penggorengan nasi goreng yang beradu dengan spatula menjadi latar yang menenangkan. Tak lama, wedang cor pesananku datang. Asapnya mengepul pelan, menghangatkan wajahku yang sempat tersapu angin malam. Aku hirup perlahan. Jahe, susu, dan aroma tape ketan hitam menyeruak, hangatnya langsung menelusup hingga ke dada.

Seteguk demi seteguk, rasa lelah yang sedari tadi menggantung di kepala mulai mencair. Tak ada lagi beban pikiran, tak ada lagi suara deadline yang mengusik. Hanya ada aku, segelas wedang cor, dan suasana malam Jakarta yang mendadak terasa damai. Entah mengapa, di warung kecil ini, aku merasa seperti pulang ke rumah.

Pemilik warung, seorang lelaki asal Surabaya, tersenyum ramah saat aku menyapa. "Wedange panas? Nggak kemanisan, Mas?" tanyanya dengan logat khas. Aku hanya menggeleng dan tersenyum, "Pas, Cak. Seperti biasa." Ia tertawa kecil. Ada kehangatan dalam setiap ucapannya, seolah aku adalah anaknya yang sedang pulang dari perantauan.

Di meja sebelah, dua orang bapak-bapak tengah berbincang tentang pertandingan bola semalam. Sementara di pojok lain, sepasang muda-mudi tertawa pelan sembari berbagi sego goreng porsi jumbo. Warung ini bukan sekedar tempat makan, tapi tempat orang-orang singgah dari riuh dunia yang melelahkan. Tempat pulang sementara sebelum benar-benar pulang ke rumah masing-masing.

Segelas wedang cor hampir habis, tapi aku tak ingin buru-buru pergi. Setidaknya biarkan kehangatan ini menetap sedikit lebih lama. Malam yang tadinya terasa dingin kini justru menyenangkan. Di tengah kota yang katanya tak pernah tidur, aku menemukan tempat yang mengajakku untuk istirahat sejenak, bukan tidur, tapi tenang.

Kupandangi jalanan dari balik warung, sesekali kendaraan melintas cepat. Tapi aku tetap diam, seperti enggan ikut dalam hiruk-pikuk itu lagi. Di warung kecil ini, aku seperti menemukan potongan dari kampung halaman yang entah sejak kapan telah hilang. Rasa rinduku pada rumah, pada ibu, pada kesederhanaan, seolah terobati oleh segelas wedang cor.

Akhirnya aku berdiri, membayar dengan senyum dan ucapan terima kasih. "Matur nuwun, Cak," ucapku sambil menyelipkan uang ke dalam toples plastik. Cacak itu hanya membalas dengan senyuman hangat, "Monggo, Mas. Hati-hati yo pulange." Kata-kata sederhana yang terasa seperti doa.

Malam ini, aku pulang dengan hati lebih ringan. Mungkin bukan lelah fisik yang selama ini membuatku letih, tapi karena tak punya cukup tempat untuk benar-benar merasa 'di rumah'. Dan siapa sangka, rumah itu bisa saja sesederhana warung sego goreng di sudut Cijantung, dan hangatnya hanya sejarak segelas wedang cor.

Komentar

Tampilkan