Malam itu, hujan baru saja reda. Embun menggantung di pucuk-pucuk dedaunan, dan aroma tanah basah masih menempel kuat di udara. Angin dingin menyusup perlahan di sela-sela jaket yang telah mulai tipis dimakan waktu. Di sudut kecil kawasan Cijantung, Jakarta Timur, sebuah warung sederhana bertuliskan "Sego Goreng Suroboyo" menyala hangat di tengah gelapnya malam.
Kursi-kursi kayu yang diletakkan seadanya tetap tampak bersahabat. Asap dari dapur belakang menguar, menyatu dengan aroma bawang putih goreng dan rempah khas. Tapi malam itu, bukan sego goreng yang dicari Juadi. Kakinya melangkah ke sana untuk satu tujuan lain: Wedang Cor.
"Cak, satu wedang cor ya. Tape-nya jangan dikit," ujar Juadi sambil menyeringai pada cacak penjaga warung.
Wedang cor, minuman hangat khas Jember yang berisi jahe, susu kental manis, dan tape ketan itu, bukan hanya soal rasa. Bagi Juadi, itu kenangan. Tentang masa kecilnya di kampung halaman, tentang neneknya yang selalu membuatkan minuman itu saat hujan turun deras di sore hari. Kini, di perantauan, wedang cor adalah cara pulang yang paling sederhana.
Sembari menunggu, Juadi menatap lampu jalan yang gemetar diterpa angin. Jakarta tak pernah benar-benar tidur. Tapi di warung itu, ada jeda. Ada rasa pulang, walau hanya sebentar. Saat wedang cor akhirnya mendarat di hadapannya, uap hangatnya langsung menyapu wajahnya, membawa ingatan akan suara gamelan yang biasa diputar neneknya di radio tua.
Ia menyeruput perlahan. Rasa jahe yang menggigit, manis susu, dan asam manis tape ketan bercampur harmonis di lidahnya. Juadi menutup mata sejenak. Hangatnya menjalar hingga ke dada. Bukan hanya tubuh yang hangat, tapi hatinya juga.
Beberapa pengunjung lain datang dan pergi, kebanyakan hanya singgah untuk sego goreng dan teh manis. Tapi hanya segelintir yang tahu, bahwa warung ini menyimpan "ramuan pulang" bagi para perantau dari Jawa Timur.
Juadi menghela napas panjang. Di luar, angin masih berbisik pelan. Tapi dalam cangkir wedang cor-nya yang tinggal separuh, ia menemukan damai yang utuh. Kadang, kita tak butuh pelukan atau ucapan rindu. Cukup semangkuk minuman yang membawa kita pulang, walau hanya lewat kenangan.
Malam makin larut. Juadi berdiri, membayar dengan senyum dan ucapan terima kasih. Ia menatap sekali lagi warung kecil itu, sebelum melangkah pergi. Udara masih dingin, tapi di dalam dirinya, sudah cukup hangat.


