Setiap malam selepas sholat isya, aroma khas nasi goreng yang menguar dari Warung Sego Goreng Suroboyo menjadi penanda dimulainya momen penuh tawa dan kehangatan. Warung kecil di pojok kampung itu bukan hanya tempat makan, melainkan tempat berkumpul dan berbagi cerita. Di antara deretan bapak-bapak yang duduk lesehan, selalu ada satu sosok yang mencuri perhatian: Cak Ri.
Cak Ri, pria berkacamata dengan kaos bergambar Gus Dur dan peci hitam bertuliskan "CAK RI", adalah magnet kebahagiaan di kampung itu. Setiap kali ia datang, suasana seolah berubah. Warung yang semula hanya dipenuhi aroma makanan mendadak dipenuhi gelak tawa. Cak Ri memang dikenal memiliki selera humor tinggi, celetukannya spontan, ceritanya selalu menggelitik perut.
"Lha wong aku dulu sempat kerja jadi petugas parkir pesawat, lho!" katanya suatu malam sambil menahan tawa. Bapak-bapak yang lain pun sontak meledak tertawa, sambil menyeruput kopi hitam dan menyuap sego goreng panas lengkap dengan telur ceplok. Semua tahu, tentu saja itu hanya lelucon khas Cak Ri, tapi gaya penyampaiannya yang lugu membuat siapa pun sulit menahan tawa.
Warung itu memang sederhana. Hanya beralaskan tikar dan beratapkan seng, namun kehangatan yang hadir setiap malam membuatnya lebih nyaman dari tempat mana pun. Bagi warga sekitar, warung ini seperti ruang terapi gratis, dengan tawa sebagai obat dan Cak Ri sebagai terapis utamanya.
Ada kalanya Cak Ri juga menyelipkan nasihat bijak di tengah gelaknya. "Hidup itu kayak nasi goreng, rek. Digoreng dulu, baru enak. Cobaan itu bumbu, sabar itu api kecilnya." Ucapannya selalu ringan namun membekas. Tak sedikit dari para bapak-bapak yang diam-diam merasa lebih kuat menjalani hari karena malam-malam bersama Cak Ri.
Suatu malam, saat hujan deras turun, warung tetap penuh. Cak Ri datang membawa payung kecil yang terlalu sempit untuk badannya yang agak gendut. Semua tertawa begitu ia datang dengan celana basah sampai lutut. "Payungnya kecil, tapi semangatnya gede!" seru salah satu bapak. Tawa kembali pecah.
Yang paling disukai dari Cak Ri adalah bahwa ia tak pernah membuat orang lain jadi bahan tertawaannya. Justru ia yang paling sering jadi bahan candaan, dan ia menerimanya dengan tangan terbuka. Keikhlasannya membuat semua merasa aman untuk tertawa bersama, bukan saling menertawakan.
Tak terasa, malam-malam seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun. Banyak hal berubah, tapi satu yang tetap sama: kehadiran Cak Ri selalu dinanti. Bahkan anak-anak muda yang mulai ikut nimbrung pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa menggantikan cara Cak Ri menyatukan semua generasi dengan humornya.
Warung Sego Goreng Suroboyo pun bukan hanya dikenal karena rasa nasi gorengnya yang pedas nikmat, tapi juga karena menjadi tempat di mana tawa, cerita, dan persaudaraan selalu tersedia. Dan semua itu dimulai dari satu sosok sederhana yang membawa tawa ke mana pun ia pergi: Cak Ri.
Malam itu, seperti biasa, mereka kembali duduk melingkar. Cak Ri mengangkat gelas kopi hitamnya dan berkata, "Mari, rek. Kita tertawa lagi sebelum dunia keburu serius besok pagi." Dan tawa pun kembali menggema, menghangatkan malam yang dingin dengan rasa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

