Iklan


Tawa di Balik Asap Sego Goreng

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:54:27Z

Di bawah langit sore yang mulai menguning, dua lelaki duduk lesehan di atas tikar pandan. Di antara mereka, dua piring sego goreng Suroboyo mengepul harum, ditemani dua cangkir kopi hitam yang mengepul perlahan. Lelaki pertama bertubuh atletis, mengenakan batik cokelat dan sarung hitam, dengan peci bertuliskan "Cak Ri". Di sebelahnya, sosok berkaca mata, mengenakan batik serupa, sarung kotak-kotak, dan peci bertuliskan "Gus Dur", tertawa renyah seperti baru mendengar lelucon favoritnya.

"Cak Ri," ujar Gus Dur sambil menyeruput kopi, "kau tahu kenapa sego goreng Suroboyo ini enak betul?"

Cak Ri mengangkat alis sambil mengunyah, "Kenapa, Gus?"

"Karena bumbunya seperti orang Surabaya, ndak bisa pelan, pedas, berani, dan langsung ke hati!" Gus Dur tertawa terpingkal. Cak Ri menyusul, menepuk pahanya sendiri.

"Tapi kopi hitamnya ini juga luar biasa, Gus," balas Cak Ri. "Kayak hidup kita: pahit, tapi nikmat kalau dijalani bareng orang yang tahu caranya."

Gus Dur mengangguk pelan. "Betul. Kadang hidup itu seperti nasi goreng, sudah sisa kemarin tapi kalau diolah dengan bumbu yang tepat, tetap bisa bikin bahagia."

Mereka terdiam sejenak, membiarkan aroma kopi dan nasi goreng mengisi sela-sela percakapan. Lalu Cak Ri menyenggol Gus Dur, "Gus, bayangkan kalau seluruh rakyat Indonesia bisa duduk kayak gini, makan bareng, ngopi bareng, tertawa bareng. Mungkin negeri ini bisa lebih damai."

Gus Dur menoleh dan tersenyum. "Itu mimpi saya dari dulu, Cak. Kadang perdamaian itu tidak perlu kebijakan besar. Cukup sepiring sego goreng, secangkir kopi, dan hati yang terbuka."

Sambil menyuap suapan terakhir, Cak Ri berkata pelan, "Mungkin kita harus buka warung perdamaian, Gus. Menunya sederhana: sego goreng dan tawa."

Gus Dur tertawa keras. "Dan kopinya gratis kalau bisa bikin orang lain ketawa!" Mereka berdua pun kembali larut dalam canda, di antara senja yang perlahan turun dan hangatnya persahabatan yang tak lekang waktu.

Komentar

Tampilkan