Warung Sego Goreng Suroboyo milik Cak Hud selalu ramai setelah isya. Terletak di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, tempat sederhana itu bukan hanya dikenal karena cita rasa khasnya, tapi juga suasana hangat yang selalu tercipta di setiap sudutnya. Dinding kayu yang ditempeli foto-foto pelanggan lama seakan jadi saksi bisu kisah yang telah lama tumbuh di sana.
Di sebuah meja panjang dekat dapur, lima sahabat lama berkumpul. Raka, Dinda, Bagus, Novi, dan Wira. Mereka dulunya teman SMA yang kini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi malam itu, ajakan spontan dari Wira membuahkan pertemuan kecil yang terasa istimewa.
"Ini dia tempat legendarisnya," kata Wira sambil duduk. "Warung Cak Hud, masih dengan sego goreng petenya yang bikin nagih."
Mereka tertawa. Dinda langsung memesan menu favoritnya: sego goreng pete dengan telur ceplok setengah matang. Tak lama, Cak Hud sendiri datang menyapa. Dengan senyum khas dan peci bertuliskan namanya, ia berkata, "Satu meja, banyak cerita. Warung Sego Goreng Suroboyo selalu jadi alasan buat kumpul dan ketawa bareng sahabat."
Suasana jadi cair. Obrolan mengalir dari topik ringan hingga kenangan masa sekolah. Tawa meledak saat Bagus mengingatkan kejadian saat mereka bolos demi ikut festival band antar sekolah, yang akhirnya malah ditonton oleh guru wali kelas.
Di tengah makan dan cerita, Novi menatap sekitar. "Tempat ini ya, sederhana, tapi punya rasa yang susah dijelaskan. Bukan cuma soal makanannya, tapi juga suasana yang bikin kita betah."
Cak Hud mendengar dan tersenyum sambil menyendok nasi ke wajan. "Warung ini dibangun bukan cuma buat jualan, tapi buat ngumpulin orang-orang yang pengin punya tempat pulang, walau cuma semalam."
Malam makin larut, tapi tak satu pun dari mereka ingin segera pergi. Suapan terakhir terasa seperti penanda bahwa kebersamaan tak harus mewah, asal dilandasi kehangatan dan rasa yang jujur, seperti sepiring sego goreng buatan Cak Hud.
Sebelum pulang, mereka berjanji akan lebih sering datang. Bukan hanya untuk makan, tapi untuk menjaga cerita agar terus hidup, di meja yang sama, di warung yang sama, bersama tawa yang selalu ditunggu.

