Iklan


Obrolan Cak Ri dan Bapak-Bapak di Warung Sego Goreng Suroboyo

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:53:52Z

Di suatu malam yang cerah di sudut Kota Jakarta Timur, aroma wangi dari warung kecil "Sego Goreng Suroboyo" menyeruak hingga ke jalanan. Warung itu tak pernah sepi, terutama ketika Cak Ri, sosok yang sudah dikenal sebagai penulis nasionalis, datang untuk makan malam. Dengan kaos merah putih khas Madura, sarung hitam, dan peci bertuliskan "CAK RI", ia menjadi pemandangan yang akrab bagi para warga sekitar.

Pagi itu, Cak Ri duduk lesehan bersama beberapa bapak-bapak warga sekitar. Mereka tampak akrab, sesekali tertawa, sesekali tampak serius. Di hadapan mereka terhidang sepiring sego goreng pedas khas Suroboyo dan segelas kopi hitam panas. "Sego goreng iki paling joss sak Indonesia," ujar Cak Ri sambil menyendokkan nasi ke mulutnya."

Pak Slamet, salah satu warga yang ikut duduk, mengangguk sambil menyesap kopi. "Tapi, Cak Ri, nek Indonesia iso ngolah rakyat seperti njenengan nulis, mestine wis maju dari dulu." Kalimat itu disambut gelak tawa dari yang lain, tapi juga menyiratkan kekaguman pada sosok Cak Ri yang dikenal banyak memberi semangat lewat tulisannya.

Cak Ri tersenyum, "Indonesia itu kaya, tapi kadang kita sendiri yang lupa. Lewat tulisan, aku cuma pengin ngelingno generasi muda, nek cinta tanah air itu bukan cuma hafalan, tapi tindakan. Dimulai dari hal sederhana, misalnya makan di warung lokal seperti ini."

Obrolan pun melebar, dari perjuangan pahlawan kemerdekaan, tantangan generasi muda, hingga isu-isu kekinian. Tapi semuanya dibalut dengan bahasa santai khas warung kopi. Tidak ada debat panas, hanya diskusi ringan tapi penuh makna.

Pak Darto, yang biasa diam, akhirnya buka suara, "Cak, tulisan panjenengan sing soal 'Cinta Tanah Air Lewat Aksi Nyata' itu nggo semangat anakku daftar jadi guru di pelosok NTT. Aku matur nuwun tenan, Cak." Suasana mendadak hening sejenak. Cak Ri hanya menunduk, menahan haru.

"Aku nulis bukan buat terkenal, Pak. Aku cuma percaya, kalau satu tulisan bisa menggerakkan satu hati, maka Indonesia sudah selangkah lebih baik," jawab Cak Ri dengan mata berbinar.

Bulan semakin cerah. Obrolan pun perlahan usai, tapi kesan yang ditinggalkan tak lekang. Cak Ri pamit, meninggalkan warung kecil itu, namun semangatnya tetap tertinggal dalam hati para bapak-bapak yang kini merasa sedikit lebih cinta pada tanah airnya.

Warung "Sego Goreng Suroboyo" bukan sekedar tempat makan, tapi menjadi saksi bisu bagaimana nasionalisme bisa tumbuh dari obrolan sederhana, sepiring nasi goreng, dan secangkir kopi hitam.

Komentar

Tampilkan