Iklan


Sepiring Rindu di Sego Goreng Suroboyo

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:27:21Z


Di sudut Jakarta Timur yang ramai dan penuh hiruk-pikuk, tersembunyi sebuah warung sederhana bernama Sego Goreng Suroboyo. Warung itu tak besar, hanya cukup untuk lima meja kayu panjang dan beberapa kursi plastik. Namun aroma wangi bawang putih yang ditumis dan nasi yang digoreng dengan saos khas Jawa Timur, mampu menarik siapa pun yang melintas.

Malam itu, hujan baru saja reda. Asap dari wajan besar di dapur mengepul ke udara, menyatu dengan bau tanah basah yang menguar. Aku datang sendiri, mencari kehangatan dari makanan yang tak sekedar mengisi perut, tapi juga membawa kenangan tentang rumah dan masa kecil di Surabaya. Sego goreng abang jadi pilihanku malam ini, nasi goreng merah khas Suroboyo dengan rasa gurih pedas yang pas.

Di meja sebelah, seorang bapak paruh baya memesan sego goreng pete dan kopi hitam. Bau pete yang menyengat justru menjadi ciri khas warung ini, dan entah kenapa, menciptakan sensasi nostalgia tersendiri. Sementara dua remaja yang duduk dekat jendela tampak tertawa-tawa sambil menyantap sego goreng ndok ceplok dan es teh manis, menciptakan suasana hangat yang menular.

Setiap pesanan dimasak langsung oleh Cak Hud, sang pemilik warung, yang mengenakan peci hitam dan senyum ramah. Tangannya lincah mengaduk nasi, menambahkan sambal, dan meletakkan telur ceplok yang matang sempurna di atasnya. "Sek anget, cak. Monggo dinikmati," ujarnya ketika mengantarkan pesanan ke mejaku.

Aku menyeruput teh tawar hangat sambil mengamati sekeliling. Tak ada musik modern, hanya suara spatula beradu dengan wajan dan percakapan hangat antar pengunjung. Tapi justru di kesederhanaan itulah kenyamanan ditemukan. Di sini, semua orang seolah-olah satu keluarga besar yang saling berbagi rindu akan kampung halaman.

Warung Sego Goreng Suroboyo bukan hanya menjual makanan, tapi juga suasana. Ada yang datang karena lapar, ada pula yang datang karena ingin bernostalgia, seperti seorang wanita muda di sudut ruangan yang memesan sego goreng spesial dan air mineral sambil sesekali tersenyum kecil memandangi foto tua di dompetnya.

Aku teringat ibu di rumah, yang dulu selalu memasakkan sego goreng ndok dadar saat aku pulang larut malam dari sekolah. Rasa yang sama kutemukan malam ini, seolah tangan Cak Hud punya sentuhan yang mampu membangkitkan kembali rasa-rasa yang telah lama kulupakan.

Malam semakin larut, warung mulai sepi. Hanya tersisa beberapa pengunjung yang masih menikmati sisa obrolan. Aku menyelesaikan makananku perlahan, tak ingin buru-buru pergi dari tempat yang memberikan ketenangan yang tak bisa kubeli di kafe-kafe modern.

Sebelum pulang, aku menyempatkan diri berbicara sebentar dengan Cak Hud. "Warung ini nggak pernah berubah ya, Cak." Ia tersenyum, "Kadang yang sederhana itu justru yang paling dirindukan." Aku mengangguk, lalu melangkah keluar dengan hati yang lebih hangat dari sebelumnya.

Sepiring sego goreng, secangkir teh tawar, dan malam yang tenang di Jakarta Timur, semua itu lebih dari cukup untuk membungkus rindu yang selama ini diam-diam tumbuh.

Komentar

Tampilkan