Jakarta belum benar-benar tidur ketika Andra memutuskan mengakhiri harinya. Jarum jam sudah menunjuk pukul 22.30, tapi jalanan masih riuh. Lampu-lampu kendaraan berseliweran seperti semut tergesa, dan gedung-gedung menjulang tetap bercahaya. Andra baru saja keluar dari kantor, tubuhnya lelah, pikirannya penat. Namun, seperti malam-malam sebelumnya, ada satu tempat yang selalu ia tuju untuk sekedar mengendapkan kepenatan: warung Sego Goreng Suroboyo di pojokan Jakarta Timur.
Warung tenda itu sederhana, tapi aromanya selalu menggoda. Bau bawang putih yang digoreng dalam minyak panas bercampur dengan saos dan sambal khas Jawa Timur, langsung mengusir kantuk siapa pun yang melintas. Meja-meja plastik berjajar, dipenuhi wajah-wajah lelah namun puas. Mereka datang dari berbagai arah, entah pegawai kantor, ojek online, atau mahasiswa yang mencari kehangatan di tengah malam Jakarta.
Andra memilih tempat duduk paling ujung, dekat kipas angin tua yang berdengung pelan. Ia memesan sego goreng ndok ceplok, favoritnya sejak pertama kali datang. Ada sesuatu dalam sepiring nasi goreng itu yang mengingatkannya pada rumah, pada Surabaya, pada masa-masa kuliah yang penuh semangat dan aroma perjuangan.
Sambil menunggu pesanannya datang, Andra mengamati lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi. Klakson bersahutan, langkah kaki terburu-buru, dan suara tawa dari pelanggan lain membuatnya merasa Jakarta tak pernah kehabisan energi. Ironisnya, di tengah hiruk pikuk itu, ia justru menemukan ketenangan. Sego Goreng Suroboyo adalah pelariannya dari rutinitas yang menggerus.
Pesanan datang, hangat dan menggiurkan. Nasi goreng berwarna merah dengan potongan ayam, telur ceplok, dan kerupuk di sampingnya. Aroma rempah menggelitik hidung. Satu suapan, dan Andra langsung merasa pulang, meski hanya lewat rasa. Mulutnya panas, tapi hatinya hangat. Tak banyak yang tahu, makanan bisa jadi jembatan kenangan.
Sambil makan, pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat warung kecil di belakang kos, tempat ia dan teman-temannya sering nongkrong sambil membahas tugas atau sekedar bercanda. Kini, satu per satu mereka terpencar, tersedot ke pusaran dunia kerja yang keras dan membingungkan. Tapi rasa sego goreng ini seolah mengikat semua kenangan itu dalam satu suapan.
Tiba-tiba, seseorang duduk di meja sebelah. Seorang perempuan berjaket kulit, wajahnya tampak lelah tapi matanya berbinar. Mereka saling menoleh, saling tersenyum. Ternyata, ia pun pelanggan tetap. Namanya Rara, editor buku yang kantornya tak jauh dari sana. Percakapan ringan pun mengalir, dimulai dari nasi goreng, lalu berlanjut ke hal-hal yang lebih dalam, tentang mimpi, lelah, dan harapan.
Malam makin larut, tapi Andra tak merasa ingin buru-buru pulang. Ada yang berbeda malam itu. Mungkin karena obrolan yang menyenangkan, atau karena rasa sego goreng yang terasa lebih spesial. Ia menyadari, Jakarta tak hanya menyuguhkan kemacetan dan tekanan, tapi juga ruang-ruang kecil yang bisa menyelamatkan jiwa.
Sego Goreng Suroboyo bukan sekedar tempat makan. Ia adalah oasis di tengah gurun beton, tempat orang-orang lelah menemukan secuil ketenangan. Dan bagi Andra, itu lebih dari cukup. Kadang, kebahagiaan memang sederhana, hanya perlu sepiring nasi goreng dan seseorang untuk berbagi cerita.


