Di sudut kecil Jakarta Timur, tepatnya di Warung Sego Goreng Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, seorang pemuda berbaju batik panjang dan peci hitam bertuliskan "Cak Ri" menjadi pemandangan yang akrab setiap malam. Sejak pindah dari Surabaya, Cak Ri menjadikan warung sederhana itu sebagai tempat pelariannya dari hiruk pikuk ibu kota. Setelah sholat isya, ia akan datang dengan tenang, memesan sepiring sego goreng abang dan segelas es teh manis, susu, dan air putih.
Warung itu bukan hanya tempat makan bagi Cak Ri, tapi juga semacam "perpustakaan malam." Ia selalu membawa buku, kadang buku sastra klasik, kadang catatan lepas berisi potongan kisah-kisah pendek yang ia tulis. Malam-malam di warung itu menjadi ruang magis tempat inspirasi mengalir tanpa henti. Asap wajan dan aroma khas bawang merah goreng menyatu dengan imajinasi yang menari di kepalanya.
Ibu warung, Bu Marsih, sudah hafal betul kebiasaan Cak Ri. "Sego goreng abang lombok dua, Cak?" tanya beliau setiap kali pria itu datang. Cak Ri hanya tersenyum dan mengangguk. Tak butuh banyak kata. Kehangatan makanan dan suasana cukup menjelaskan semuanya. Kadang, ia hanya termenung di depan piring setengah habis sambil memikirkan tokoh-tokoh dalam cerpen yang ia tulis.
Di antara pelanggan lainnya, hanya Cak Ri yang datang membawa buku. Hal itu membuatnya dijuluki "penulis warung" oleh anak-anak muda setempat. Namun, Cak Ri tak keberatan. Justru ia senang bisa menginspirasi anak-anak muda yang mulai tertarik membaca dan menulis, hanya karena melihat dirinya tekun mengisi malam dengan huruf-huruf.
Kisah-kisah pendek yang ia tulis tak jauh-jauh dari pengalaman dan suasana warung itu. Ia menulis tentang pelanggan tetap yang selalu datang tengah malam, tentang anak kecil penjual tisu yang diam-diam mencuri pandang ke buku bacaannya, hingga tentang cinta pertama yang ia temukan di bangku panjang warung sego goreng itu, yang sayangnya hanya sempat mampir sekali.
Cak Ri punya cita-cita sederhana: menerbitkan buku antologi cerpen berjudul "Sego Goreng Suroboyo." Sebuah penghargaan kecil untuk tempat yang telah memberinya banyak kenangan dan inspirasi. Ia ingin orang tahu bahwa dari sebuah warung kecil, kisah besar bisa lahir. Ia yakin, aroma nasi goreng dan hiruk-pikuk kota bisa menjadi latar cerita yang kuat dan menggugah.
Malam itu, di bawah lampu remang warung, ia menyelesaikan cerpen terakhirnya. Judulnya "Bangku Panjang", kisah tentang seorang lelaki yang mencari makna pulang di kota orang. Tangannya bergerak lincah menari di atas kertas, sementara sesekali ia menyuap suapan terakhir sego gorengnya. Di ujung cerita, ia menulis satu kalimat penutup yang ia bisikkan sendiri: "Sego goreng abang bukan sekedar makanan, tapi rumah yang bisa kau cicipi di setiap sendoknya."
Beberapa minggu ke depan, ia akan mencetak buku itu. Bu Marsih bahkan sudah berjanji akan memajang satu eksemplar di etalase warung. "Biar orang tahu, warung ini juga bisa melahirkan penulis hebat," katanya sambil tertawa kecil. Cak Ri hanya tersenyum, merasa cukup dengan doa dan semangat itu.
Jakarta mungkin bukan kampung halamannya, tapi warung Sego Goreng Suroboyo telah menjadi tanah subur bagi kisah-kisah Cak Ri. Dan bagi siapa pun yang membaca bukunya nanti, mereka akan tahu bahwa dari warung sederhana di Jl. Pendidikan 1, lahir kisah-kisah luar biasa tentang kehidupan, cinta, dan segelas es teh manis yang menemani malam.

