Iklan


Sego Goreng Rindu

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:52:00Z

Cak Ri, lelaki kelahiran Jember, adalah tipikal wong Jatim tulen. Logat khas Jawa Timurnya masih kental, meskipun sudah beberapa tahun tinggal di Jakarta. Masa mudanya dihabiskan di Jember, dari bermain layangan di lapangan dan sawah hingga menyelesaikan kuliah di jurusan Teknik Informatika di salah satu kampus negeri ternama.

Selepas wisuda, seperti banyak anak muda lainnya, ia memutuskan merantau ke Jakarta. Kota besar dengan sejuta harapan. Awalnya, ia diterima kerja sebagai programmer di sebuah startup yang berkantor di bilangan Kuningan. Kehidupan barunya dimulai: macet, deadline, dan makanan cepat saji.

Namun, ada satu hal yang selalu membuat hatinya kosong tiap malam, sego goreng abang khas Surabaya. Nasi goreng kampung yang sederhana, disajikan di atas piring kertas minyak, dengan potongan timun, telur ceplok, dan saos merah khas Suroboyo yang menggigit lidah. Itu bukan sekedar makanan. Itu adalah kenangan, kehangatan rumah, dan pelukan ibu yang diam-diam disisipkan lewat bumbu dapur.

Setiap kali ia pulang kampung, hal pertama yang dicari bukan oleh-oleh atau tempat wisata, melainkan sego goreng abang langganannya yang mangkal di ujung gang rumahnya. "Sak piring, lho Cak, tapi rasa ne iso ngobati rindu sewu kilometer," candanya setiap menyantap hidangan itu.

Rindu itu lama-lama menumpuk. Jakarta memang punya semuanya, tapi tidak untuk sego goreng Surabaya yang autentik. Suatu malam, ketika ia duduk sendiri di kosannya sambil menyeruput kopi sachet, ide gila muncul: "Kenapa nggak buka warung aja?"

Akhirnya, setelah menabung dan memantapkan hati, Cak Ri membuka Warung Sego Goreng Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Warung kecil dengan cat merah kuning menyala, dihiasi poster-poster khas Surabaya dan suara campursari pelan di latar belakang.

Menu andalannya tentu saja sego goreng khas Surabaya, dimasak langsung olehnya dengan resep warisan dari ibunya. Ia juga menambahkan variasi seperti sego goreng pete, sego goreng ndok dadar ekstra pedas, dan tentu saja bumbu rahasia racikan sendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Tidak butuh waktu lama, warga sekitar mulai berdatangan. Mulai dari orang tua yang rindu kampung halaman, mahasiswa perantau dari Jawa Timur, hingga warga Betawi yang penasaran dengan rasa sego goreng "versi Suroboyo" ini. Banyak yang bilang: "Rasane njleb banget, Cak."

Bagi Cak Ri, warung ini bukan sekedar bisnis. Ini adalah jembatan antara kenangan dan masa depan, antara Jawa Timur dan Jakarta. Setiap nasi yang digoreng, setiap sambal yang ditumbuk, adalah bentuk cintanya pada tanah kelahiran.

Kini, kapan pun rindu itu datang, Cak Ri tak perlu lagi menunggu libur panjang untuk pulang kampung. Ia tinggal menyalakan kompor, menyiapkan bumbu, dan memasak rindu itu menjadi sepiring sego goreng hangat yang mengobati hati.

Komentar

Tampilkan