Iklan


Sego Goreng Suroboyo di Jakarta

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:45:15Z

Di tengah hiruk pikuk Jakarta Timur, tepatnya di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, berdirilah sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi pengunjung: Sego Goreng Suroboyo. Warung itu tak punya papan nama mencolok, hanya spanduk kecil bertuliskan "Sego Goreng Suroboyo, dan Wedang". Namun, aroma khas nasi goreng yang digoreng dengan saos asli Surabaya itu sanggup memanggil siapa saja yang lewat.

Warung ini adalah milik Cak Ri, perantau dari Surabaya yang sudah menetap di Jakarta sejak beberapa tahun lalu. Rasa rindu akan kampung halaman membuatnya membuka warung dengan cita rasa otentik, bukan hanya meniru-niru. "Sego goreng harus pedesnya nampol, abangnya kentara, dan ada rasa kobong dikit," kata Cak Ri kepada setiap pelanggan baru.

Tak hanya nasi gorengnya yang melegenda, wedang cornya juga jadi primadona. Wedang cor minuman hangat khas Jember dengan campuran jahe, susu, dan tape ketan, selalu jadi pilihan pasangannya. Banyak pelanggan yang datang bukan hanya karena lapar, tapi karena rindu: rindu kampung, rindu suasana, rindu rasa.

Suatu malam, Bhumi, seorang pemuda yang baru dipindah tugaskan dari Surabaya ke Jakarta, menemukan warung itu secara tak sengaja. Ia sedang menyusuri kawasan Cijantung untuk mencari makan malam. Begitu mencium aroma sego goreng dari kejauhan, langkahnya terhenti. Hidungnya seolah mengenali rasa yang lama menghilang dari kehidupannya.

Duduk di tikar ijo, Bhumi memesan satu porsi sego goreng pedas sedang dan satu gelas wedang cor. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya terpejam. Rasa itu membawanya kembali ke gang kecil tempat ibunya dulu jualan sego goreng di Surabaya. Air matanya nyaris menetes.

"Mas, enak, to?" tanya Cak Ri sambil tersenyum ramah. Bhumi hanya mengangguk, lalu berkata pelan, "Cak, ini rasa Surabaya yang asli. Saya sampai lupa lagi di Jakarta."

Sejak malam itu, Bhumi menjadi pelanggan tetap. Bahkan ia sering membawa rekan kerjanya, mengenalkan mereka pada rasa kampung halaman yang otentik. Warung itu pun makin ramai, bukan karena promosi di media sosial, tapi karena cerita dari mulut ke mulut.

Di balik asap penggorengan dan kehangatan wedang cor, warung Sego Goreng Suroboyo menjadi ruang pertemuan, tempat cerita lama dihidupkan, dan rasa rindu dituntaskan. Dan satu hal pasti: untuk merasakan Surabaya yang sesungguhnya, tak perlu terbang ke Jawa Timur. Cukup datang ke Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Karena di sanalah, rasa sejati itu tinggal.

Komentar

Tampilkan