Shinchan duduk di ruang makan rumahnya sambil memandangi piring berisi makanan yang sama seperti kemarin, dan kemarin lusa. "Ibu, aku bosan makan ini terus!" keluhnya sambil memainkan sendok. "Ini kan makanan sehat, Shinchan," jawab ibunya sambil tersenyum. Tapi bagi Shinchan, sehat saja tidak cukup. Ia ingin sesuatu yang beda, sesuatu yang mengguncang lidah dan membuat hatinya bahagia.
Sambil rebahan di sofa, Shinchan membuka ponselnya dan berselancar di media sosial. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah video pendek yang menampilkan seorang pria tengah menikmati sepiring Sego Goreng Suroboyo, nasi goreng khas Surabaya yang penuh bumbu rempah, lengkap dengan suwiran ayam, telur dadar orek, dan sambal pedas yang menggoda. "Wah, ini dia!" seru Shinchan semangat. Lokasinya ternyata di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Tak menunggu lama, Shinchan langsung membuat rencana. "Aku harus ke Jakarta! Aku harus coba sego goreng itu!" katanya sambil mengepak baju ke dalam ransel kecilnya. Setelah berpamitan kepada orang tuanya dan memastikan semua perlengkapan aman, Shinchan naik pesawat menuju Jakarta dengan semangat membara.
Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, Shinchan segera memesan ojek online menuju Jl. Pendidikan 1 di Cijantung. Sepanjang perjalanan, ia membayangkan rasa gurih dari nasi goreng khas Suroboyo yang sedang ia buru. Bahkan ia sampai lupa kalau perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Akhirnya ia tiba di tempat yang dituju. Di sebuah warung sederhana dengan papan nama "Sego Goreng Suroboyo & Wedang Cor", aroma sedap langsung menyambutnya. Hidungnya seperti ditarik oleh wangi bawang putih dan bumbu khas yang sedang ditumis di atas wajan besar. Shinchan pun duduk dan memesan satu porsi sego goreng serta wedang cor, minuman hangat berbahan jahe dan tape khas Jawa Timur.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Shinchan langsung membelalak. "Wah! Ini... ini enak banget!" katanya terkejut. Rasa gurih dari nasi yang ditumis dengan bumbu khas Surabaya berpadu sempurna dengan pedasnya sambal dan segarnya timun di sisi piring. Wedang cor yang hangat membuat tenggorokannya terasa nyaman, apalagi setelah perjalanan panjang tadi.
Pemilik warung, seorang bapak asal Surabaya, tersenyum melihat reaksi Shinchan. "Masnya dari mana?" tanya si bapak. "Saya dari Kasukabe, Jepang," jawab Shinchan polos, membuat si bapak terbahak. "Wah, jauh banget datang-datang cuma buat sego goreng," katanya kagum.
Setelah selesai makan, Shinchan duduk sejenak menikmati suasana warung yang ramai tapi hangat. Ia mencatat tempat itu di ponselnya dengan bintang lima dan menulis: "Tempat ini surganya rasa! Worth it dari ujung dunia."
Dalam perjalanan pulang ke hotel, Shinchan merasa perjalanannya bukan sekedar mencari makanan. Ia menemukan kehangatan, keramahan, dan tentu saja rasa baru yang menggetarkan lidah dan hati. "Besok aku cari kuliner lain lagi, siapa tahu ada sego goreng versi Bandung," gumamnya sambil tersenyum. Petualangan rasa pun baru saja dimulai.

