Iklan


Malam-Malam Bersama Cak Ri

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:52:41Z

Di sebuah sudut sederhana di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, ada sebuah warung kecil yang nyaris tak pernah sepi: Sego Goreng Suroboyo. Di antara pelanggan tetapnya, ada satu sosok yang paling mencuri perhatian. Namanya Cak Ri. Setiap malam, ia duduk di kursi paling pojok, mengenakan peci hitam bertuliskan namanya, dan kaos putih dengan logo khas warung favoritnya.

Cak Ri bukanlah sekedar penikmat nasi goreng. Ia adalah sosok yang dihormati dalam dunia literasi. Banyak orang mengenalnya sebagai penulis yang tajam dan menyentuh, namun sedikit yang tahu bahwa inspirasi sebagian besar tulisannya lahir dari aroma pedas dan hangatnya sego goreng langganannya itu.

Warung itu telah menjadi saksi bisu percakapan-percakapan penuh makna yang ia bangun. Mulai dari obrolan ringan tentang kehidupan hingga diskusi dalam tentang bangsa. Tak jarang, pemuda-pemuda datang hanya untuk mendengar petuah-petuahnya sambil menyeruput es teh.

"Ada yang bisa kau temukan dari sepiring nasi goreng, asal kau punya hati yang terbuka," katanya suatu malam pada seorang mahasiswa yang sedang bingung menyusun skripsi. Kalimat itu sederhana, tapi sang mahasiswa akhirnya mampu menyelesaikan tulisannya dan bahkan menerbitkan buku pertamanya.

Cak Ri tidak pernah mengajar di kelas, tapi ia telah mendidik banyak orang. Tulisan-tulisannya menyebar di media online, blog pribadi, dan bahkan dinding warung. Ia menulis dengan gaya khas yang membumi, penuh filosofi, namun mudah dicerna.

Tak ada yang tahu pasti pekerjaannya. Sebagian mengira ia pensiunan guru, yang lain menduga ia jurnalis senior. Tapi bagi warga sekitar, terutama pemilik warung, Cak Ri adalah penjaga malam penuh makna. Selalu datang selepas isya, memesan menu yang sama, lalu menulis di buku kecil lusuh miliknya.

Suatu malam, pemilik warung mendekatinya, "Cak, kenapa selalu di sini? Kenapa nggak nulis di tempat yang nyaman, ada wifi, ada kopi modern?" Cak Ri tersenyum, lalu menunjuk ke sepiring nasi goreng di depannya, "Di sinilah nyawa tulisan saya. Kalau saya pindah, barangkali kata-kata saya ikut pergi."

Banyak yang menganggap warung itu menjadi istimewa karena rasa makanannya. Tapi sejatinya, kehadiran Cak Ri lah yang membuatnya hidup. Ia tak pernah memaksa orang membaca tulisannya, tapi siapa pun yang pernah duduk bersamanya pasti membawa pulang inspirasi.

Suatu hari, warung itu ramai luar biasa. Ternyata, sekelompok komunitas literasi datang dari berbagai kota. Mereka tak hanya ingin mencicipi sego goreng suroboyo, tapi juga bertemu dengan legenda hidup bernama Cak Ri. Malam itu, warung berubah menjadi ruang diskusi yang hangat dan menggugah.

Cak Ri tetap duduk di sudutnya, tersenyum melihat sego goreng bisa menyatukan lidah dan pikiran. "Ternyata, sepiring nasi bisa jadi jembatan," katanya pelan, lalu kembali menulis. Di atas warung itu, langit tampak lebih terang dari biasanya, seakan ikut menyimak kisah yang sedang ditulisnya.

Komentar

Tampilkan