Iklan


Ketenangan Dalam Sepiring Sego Goreng

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:47:11Z

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Pak Bayu Kurnianto menemukan pelipur lara dalam sesuatu yang sederhana namun sarat makna: sepiring sego goreng khas Suroboyo. Lelaki asal Surabaya ini merantau ke Jakarta sejak lebih dari satu dekade lalu. Namun, kenangan kampung halaman tak pernah luntur, bahkan justru kian menguat di sela-sela kesibukan harian.

Pak Bayu bukan sekadar perantau biasa. Ia memiliki hobi unik yang jarang digeluti oleh kaum urban: budidaya lele dan nila. Kecintaannya pada kedua jenis ikan air tawar itu begitu besar, hingga ia mendirikan komunitas bernama Lenilakers, singkatan dari Lele-Nila Lovers. Komunitas ini mewadahi para pecinta dan peternak ikan lele serta nila, dari skala rumahan hingga profesional.

Setiap akhir pekan, Pak Bayu menyempatkan waktu berkumpul dengan anggota komunitasnya. Diskusi mereka tak hanya seputar teknik pembibitan dan pakan alami, tapi juga filosofi hidup yang bisa dipetik dari kesabaran dalam merawat ikan. Baginya, beternak ikan adalah latihan batin. Seperti air, ia belajar tenang, sabar, dan tidak mudah goyah.

Namun ada satu rutinitas yang tak pernah dilewatkannya: menyantap sego goreng abang khas Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Jakarta Timur. Warung sederhana itu, meski jauh dari kemegahan, menyimpan kehangatan rasa yang mengingatkannya pada masa kecil di Surabaya. Aroma bawang goreng, saos merah, dan irisan telur dadar menjadi nostalgia yang menenangkan.

Sambil menikmati tiap suapan, Pak Bayu selalu memejamkan mata sejenak. Bukan untuk tidur, tapi untuk menyerap sepenuhnya rasa dan kenangan. Dalam batin, ia selalu menggumam satu kalimat yang menjadi semacam mantra hidupnya: "Ketenangan Hati Tiada Tanding."

Kalimat itu datang dari ibunya dahulu, yang selalu mengajarkan bahwa hidup boleh keras, tapi hati harus tetap lembut. Dan bagi Pak Bayu, sepiring sego goreng yang sederhana bisa menjadi sarana menyambung kembali ketenangan yang kerap terputus oleh tekanan hidup ibu kota.

Banyak yang heran, mengapa pria seaktif dan sibuk seperti Pak Bayu bisa tampak selalu damai. Jawabannya, mungkin bukan hanya pada budidaya ikan, melainkan juga pada cara ia menghargai hal kecil seperti makanan kesukaan. Baginya, setiap momen adalah kesempatan untuk menemukan kembali jati diri.

Di komunitas Lenilakers, kalimat "Ketenangan Hati Tiada Tanding" bahkan mulai menjadi semacam semboyan tak resmi. Anggota komunitas sering menyebutnya sebagai Mantra Pak Bayu. Dan lucunya, setiap kali ada acara kumpul, menu andalan mereka pun selalu ada satu: sego goreng ala Suroboyo.

Hidup Pak Bayu Kurnianto mungkin tak ditulis di halaman depan koran. Tapi bagi mereka yang mengenalnya, ia adalah contoh nyata bahwa ketenangan tak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan yang dihayati sepenuh hati. Di Jakarta yang ramai, ia tetap seorang arek Suroboyo yang mencintai ikan, komunitas, dan tentu saja: sego goreng abang kesayangannya.

Komentar

Tampilkan