Iklan


Wedang Cor dan Lelahnya Urusan Dunia

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:42:14Z


 


Di sebuah sudut Jakarta Timur, tepatnya di Jl. Pendidikan 1 Cijantung, berdirilah sebuah warung sederhana bernama Sego Goreng Suroboyo. Warung itu bukan sekedar tempat makan, tapi tempat melepas penat dan melebur tawa. Malam itu, pukul 19.00, tiga sahabat lama janjian untuk bertemu di sana: Cak Messi, Cak Ronaldo, dan Cak Neymar.

Tiga lelaki dengan nama beken, entah memang kebetulan atau memang suka dipanggil begitu, datang dari arah yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama: beristirahat dari lelahnya urusan dunia. Cak Messi datang lebih dulu, mengenakan kaos biru tua dan membawa termos kecil berisi kopi. Tak lama kemudian, Cak Ronaldo datang dengan langkah gagah khasnya, disusul oleh Cak Neymar yang selalu tampil santai dengan sandal jepit dan topi terbalik.

"Yowes, lengkap kabeh!" seru Cak Ronaldo sambil menepuk bahu dua sahabatnya. Mereka tertawa kecil, seperti anak-anak yang tak pernah benar-benar dewasa. Mereka duduk di pojokan warung, meja kayu panjang yang biasa dipakai rombongan, tapi malam itu hanya untuk mereka bertiga.

Tak lama, sego goreng abang pedes datang, mengepul dan harum menggoda. "Iki baru makanan sejati, rek," ujar Cak Neymar sambil menyeruput wedang cor panas yang baru saja disajikan. Wedang itu begitu pas: manis, hangat, dan menyelusup ke dada, mengusir segala dingin, baik dari cuaca maupun dari hati yang capek.

Obrolan pun mengalir. Mereka tidak membahas dunia, tidak membahas pekerjaan, tidak juga membahas masa depan. Mereka hanya tertawa tentang masa lalu: tentang sepeda butut yang dulu sering mereka naiki bertiga, tentang patah hati pertama, dan tentang mimpi-mimpi yang dulu begitu besar, tapi kini dibiarkan mengendap diam.

"Kadang aku mikir, rek, hidup iki terlalu rame. Penuh target, deadline, dan ekspektasi," ujar Cak Messi sambil mengaduk-aduk nasinya. Cak Ronaldo mengangguk. "Makanya aku seneng kumpul begini. Ora usah mikir apa-apa. Makan, ngopi, ngobrol. Cukup."

Cak Neymar menatap langit yang mulai gelap. "Kadang aku iri karo warung ini. Sederhana, tapi semua orang yang datang ke sini kelihatan lebih hidup." Dua sahabatnya diam, tapi dalam hati mereka setuju. Malam itu, tidak ada jabatan, tidak ada tekanan, hanya tiga sahabat dan satu meja penuh makanan.

Jam terus berjalan. Tapi mereka tak buru-buru pulang. Mereka tahu, waktu seperti ini adalah kemewahan yang tak bisa dibeli: duduk bertiga, tertawa lepas, dan merasa bahwa meski dunia sibuk, hati mereka tetap punya rumah untuk pulang.

Malam itu, Sego Goreng Suroboyo bukan cuma warung. Ia jadi tempat di mana lelah dilepas, dan sahabat kembali jadi anak-anak yang hanya butuh sego goreng abang pedes dan wedang cor panas untuk merasa bahagia.

Komentar

Tampilkan