Iklan


Sego Goreng Suroboyo, Sahabat Sehidup Seperliterasi

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T03:57:11Z

Di sebuah sudut sederhana kota Jakarta Timur, tepat di bawah temaram lampu warung kaki lima yang menjual Sego Goreng Suroboyo, dua pria duduk bersila di atas tikar. Mereka adalah Rizal, sang pendiri Bhumi Literasi Anak Bangsa, dan Ade, pendiri Alungcipta. Tidak ada atribut mewah, hanya kaos sederhana dan sarung yang mereka kenakan, namun tawa mereka mengisi malam dengan hangatnya persahabatan yang langka.

Rizal dan Ade bukan hanya sahabat, mereka adalah saudara yang disatukan oleh idealisme dan cinta pada dunia literasi. Sejak pertama kali bertemu dalam sebuah diskusi buku bertahun-tahun lalu, keduanya merasa seolah telah lama saling mengenal. Ide-ide mereka selalu bertaut, saling mengisi dan memperkaya satu sama lain.

Malam itu, sambil menyendokkan Sego Goreng Suroboyo ke mulut, Rizal bercerita tentang anak-anak di pelosok yang mulai menulis cerpen setelah membaca buku kiriman Bhumi Literasi. Matanya berbinar penuh semangat. Ade menyahut dengan cerita tentang pelatihan ilustrasi yang digelar Alungcipta di desa terpencil, yang menghasilkan banyak gambar penuh makna dari tangan anak-anak berbakat.

Tawa mereka pecah ketika mengenang momen lucu saat salah satu peserta pelatihan Ade tak sengaja menggambar Rizal menjadi tokoh kartun berambut jabrik. "Itu potret literasi sejati, bro," canda Rizal. Ade tertawa sampai matanya berkaca-kaca, lalu menyodorkan segelas es teh kepada sahabatnya itu.

Mereka lalu terdiam sejenak, menikmati heningnya malam dan aroma nasi goreng yang memikat. Di antara kepulan asap wajan dan suara obrolan warung sebelah, keduanya merasa ada yang lebih besar dari sekedar gerakan literasi, yaitu persaudaraan yang tidak bisa dibeli oleh apapun.

"Kadang gue mikir," kata Ade sambil menatap langit malam, "apa jadinya hidup kita kalau kita nggak ketemu dulu waktu itu?" Rizal menjawab ringan, "Mungkin gue jadi penulis kesepian, dan lo jadi ilustrator galau. Syukurnya kita ketemu, jadi bisa galau bareng sambil ngasih manfaat buat orang lain."

Mereka tertawa lagi, kali ini lebih dalam. Dalam tawa itu tersimpan banyak hal, perjuangan, kenangan, dan harapan. Mereka sadar bahwa jalan yang mereka tempuh tidak selalu mudah, tapi bersama, segalanya jadi lebih ringan.

Segelas kopi hitam di tangan Rizal dan segelas es teh di tangan Ade menjadi saksi persahabatan dua sahabat yang tak kenal lelah berbagi inspirasi. Di balik kesederhanaan menu malam itu, tersimpan semangat besar untuk terus menyalakan api literasi bagi generasi penerus bangsa.

Dan malam itu pun berakhir dengan satu janji sederhana namun penuh makna: "Selama Sego Goreng Suroboyo masih ada, kita akan terus berjuang bersama."

Komentar

Tampilkan