Di sebuah sudut jalan kecil bernama Jl. Pendidikan 1, Cijantung, berdirilah warung sederhana yang selalu ramai dari buka hingga tutup. Warung itu bernama Sego Goreng Suroboyo, menjajakan sego goreng abang khas Surabaya yang menggugah selera. Tak hanya menawarkan rasa, warung ini juga menyuguhkan aroma nostalgia dan cerita, karena pemiliknya bukan hanya penikmat kuliah legend tersebut, tapi juga seorang penulis.
Namanya Cak Ri (Rizal Mutaqin), pria yang dikenal sebagai pendiri Bhumi Literasi Anak Bangsa. Ia tak hanya gemar membaca dan menulis, tapi juga pecinta kuliner sejati. Suatu hari, sambil menyeruput es teh dan menyantap sego goreng abang buatannya sendiri, Cak Ri mendapat ide: "Mengapa tidak menyatukan dua cintaku dalam satu tempat?"
Dari ide sederhana itu lahirlah buku antologi cerpen berjudul "Sego Goreng Suroboyo". Buku ini berisi cerita-cerita pendek yang terinspirasi dari obrolan ringan bersama pelanggan, aroma nasi goreng yang membakar rindu, dan pengalaman-pengalaman hidup yang ia jumpai setiap hari di warung kecilnya. Setiap pengunjung yang datang tak hanya pulang dengan perut kenyang, tapi juga hati yang hangat.
Warung itu tak seperti tempat makan biasa. Di salah satu sudut, ada rak kayu berisi buku-buku literasi, dengan "Sego Goreng Suroboyo" menjadi bintang utamanya. Banyak yang datang hanya untuk makan, tapi tak sedikit pula yang penasaran dengan isi bukunya. Mereka membaca sambil mengunyah, lalu tersenyum atau termenung usai halaman terakhir.
Suatu hari, seorang remaja datang dan membaca cerpen berjudul "Lauk Terakhir di Piring Ayah". Air matanya jatuh, bukan karena pedasnya sambal, tapi karena ia merasa cerita itu seperti ditulis untuknya. Ia tak jadi pulang setelah makan, melainkan mendaftar jadi relawan literasi di Bhumi Literasi Anak Bangsa.
"Cak, nasi gorengnya enak, tapi bukunya lebih ngena," ucap seorang pelanggan tetap sambil menepuk bahu Cak Ri. Ia hanya tersenyum, sambil membalik telur ceplok di wajan panas. Baginya, kalimat seperti itu adalah penghargaan lebih besar dari sekedar pujian rasa.
Kini warung kecil itu telah menjadi tempat singgah bagi siapa pun yang lapar, baik perut maupun jiwa. Bukan hal aneh melihat seorang tukang ojek dan mahasiswa duduk berdampingan, masing-masing sibuk dengan buku yang sama. Literasi dan kuliner ternyata bisa bersatu dalam harmoni.
Setiap cerita dalam bukunya ditulis dengan sederhana, seperti bumbu sego gorengnya. Tidak mewah, tapi jujur. Dan kejujuran itulah yang membuat siapa pun bisa merasakan kehangatan, seperti makan masakan ibu di kampung halaman. Sego goreng yang membawa cerita, dan cerita yang menghidupkan kembali kenangan.
Jadi, jika kamu penasaran dengan isi bukunya atau sekedar ingin merasakan sego goreng abang khas Suroboyo, datanglah ke warung Sego Goreng Suroboyo di Jl. Pendidikan 1, Cijantung, Pasar Rebo. Siapa tahu, kamu akan menemukan dirimu di antara lembar-lembar ceritanya, atau mungkin, jadi cerita selanjutnya.

