Iklan


Rasa, Literasi, dan Lele di Meja Bundar

Bhumi Literasi
Tuesday, May 27, 2025, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-28T04:33:15Z

Di sebuah ruangan pertemuan yang dindingnya dihiasi video tron dengan logo Sego Goreng Suroboyo, Bhumi Literasi Anak Bangsa, dan Lenilakers, tiga sosok pria duduk melingkar di meja bundar. Mas Rizal Mutaqin, dengan kemeja putih rapi dibalut jas dan ransel berisi buku-buku literasi, duduk tegak sambil membuka laptopnya. Di sebelahnya, Cak Ri, berkaos ijo army dengan buku catatan di depannya, tampak santai namun penuh perhitungan. Sementara itu, Pak Bayu Kurnianto, mengenakan kemeja biru muda dan kacamata khasnya, tersenyum lebar sambil mencermati slide presentasi di laptopnya.

"Mas Rizal, aku kepikiran buat program literasi yang bisa menyentuh masyarakat lapisan bawah. Tapi aku juga mau ngajak mereka makan enak, ngumpul bareng, dan ngobrol santai," ujar Cak Ri sambil menyodorkan sepiring sego goreng pedas dengan telur ceplok di atasnya.

Pak Bayu mengangguk sambil mengambil brosur dari tasnya. "Saya juga punya komunitas penggemar lele dan nila, Mas. Kita sering kumpul di kolam, tapi sayangnya belum ada program edukatif buat mereka. Mungkin bisa dikolaborasikan."

Mas Rizal tersenyum. "Bayangkan, kita bikin 'Festival Rasa dan Literasi'. Ada lomba baca puisi, kelas menulis cerpen, dan workshop budidaya ikan lele. Makanannya? Tentu dari dapurnya Cak Ri. Jadi literasi bisa terasa nikmat."

Mereka bertiga tertawa. Cak Ri segera mengeluarkan proposal kerjasama yang telah ia siapkan. Ternyata, ia sudah lama ingin menggabungkan dunia kuliner dengan kegiatan sosial. "Sego Goreng Suroboyo bukan cuma soal rasa, tapi juga pengalaman. Kalo bisa sekalian nambah wawasan, kenapa enggak?"

Rapat makin hangat ketika Pak Bayu mengusulkan satu segmen unik: lomba menggambar ikan sambil makan sego goreng. Mas Rizal langsung mencatat ide itu. Ia juga menawarkan untuk mencetak buku cerita anak bertema ikan dan kuliner khas daerah.

"Pak Bayu, nanti kita buat karakter Lele dan Nila yang suka baca buku. Mereka bisa jadi maskot acara," usul Mas Rizal. Pak Bayu langsung menyambut antusias, "Wah, cocok! Bisa jadi edukasi buat anak-anak di kampung juga."

Menjelang maghrib, kesepakatan pun tercapai. Mereka menandatangani MoU sederhana di atas kertas bergambar logo masing-masing. Momen itu diabadikan oleh kamera tim dokumentasi. Ketiganya berdiri berdampingan di depan video tron yang menampilkan sinergi tiga dunia: kuliner, literasi, dan perikanan.

Hari itu menjadi awal kolaborasi luar biasa. Bukan hanya mempertemukan rasa dan bacaan, tapi juga menjembatani harapan masyarakat akar rumput melalui pendekatan yang dekat, hangat, dan membumi.

Komentar

Tampilkan