Sebagai orang asli Jawa Timur, kenangan tentang rumah, keluarga, dan aroma masakan khas kampung halaman selalu hidup dalam ingatan. Bukan hanya soal rasa, tapi juga suasana: tawa sederhana di warung, obrolan hangat di sela suapan, dan aroma sego goreng (nasi goreng) yang menggoda dari dapur sederhana di samping mall Cijantung. Semua itu adalah potongan kecil dari kebahagiaan yang sulit digantikan.
Makan dan bersantai di warung khas Jawa Timur bersama keluarga menjadi momen istimewa yang tak ternilai. Di sana ada cinta yang tak diucapkan, kerinduan yang tak perlu dijelaskan, dan kebahagiaan yang tak bisa dibeli. Bagi perantau, kenangan itu hadir sebagai kerinduan yang diam-diam terus tumbuh setiap hari.
Itulah yang mendorong saya untuk membuka Warung Sego Goreng Suroboyo di Cijantung. Sebuah langkah kecil dengan harapan besar: agar saya dan banyak orang lain yang juga merindukan Jawa Timur bisa tetap merasakan kehangatan kampung halaman, meski berada jauh dari sana.
Dengan jarak sekitar 800 km dari kampung halaman di Jawa Timur, tentu tak mudah untuk sering pulang. Tapi siapa bilang rasa dan suasana harus ikut menjauh? Lewat Warung Sego Goreng Suroboyo, saya ingin menghadirkan potongan kecil dari kampung halaman di tengah hiruk pikuk ibu kota.
Warung ini bukan sekedar tempat makan. Ini adalah ruang temu, tempat melepas rindu, dan jembatan emosional yang menghubungkan hati perantau dengan tanah kelahiran. Saat aroma bumbu khas Suroboyo mulai memenuhi udara, seolah waktu mundur sejenak, membawa kami kembali ke rumah.
Kini, warga Cijantung dan sekitarnya tak perlu jauh-jauh pulang kampung untuk menikmati cita rasa dan kehangatan khas Suroboyoan. Dari sego goreng abang, ndok ceplok, dadar, pete, hingga wedang cor, semuanya dihadirkan dengan sepenuh hati, persis seperti di kampung halaman.
Saya percaya bahwa makanan bukan sekedar kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan emosional. Setiap hidangan yang disajikan membawa cerita, membawa kenangan, dan menjadi sarana menyampaikan cinta pada tradisi yang terus hidup.
Respons masyarakat pun luar biasa. Banyak pelanggan yang datang bukan hanya karena rasa, tapi juga karena suasana. Mereka merasa seperti sedang makan di warung kampung sendiri, lengkap dengan keramahan dan sentuhan kekeluargaan yang hangat.
Membuka Warung Sego Goreng Suroboyo adalah bentuk cinta saya terhadap Jawa Timur, sekaligus bentuk syukur karena masih bisa berbagi rasa dan cerita. Ini bukan sekedar usaha kuliner, tapi juga misi budaya, menjaga warisan rasa agar tetap hidup dan akrab di lidah generasi masa kini.
Harapan saya sederhana: semoga warung ini bisa terus menjadi tempat pulang, bagi siapa pun yang rindu rumah, rindu Jawa Timur, dan rindu cita rasa yang tak tergantikan.

